Detik Pertemuan Antara Samudra

bismillahi

18767368664_7e927593c4_b

Detik Pertemuan Antara Samudra

Dia datang menyerahkan diri  kepada Sang Tuan,
disambutnya tangan seraya dipegang,
Tangan Kudrat Iradat Sang kekasih,
Tersenyum simpuh dipegang mesra.
Ciuman menyatukan keheningan perasaan,
lambang syahdu sebuah percintaan,
yang bertaut erat di jiwa ketelusan.
Mustafa tersenyum menjadi saksi ,
perkasihan jelas di sanubari
disertai haruman kasturi Syurgawi.
Mustafa senyum menjadi saksi ,
dua jiwa dalam satu cinta abadi terpatri.

Si murid berlutut Di hadapan Sang Tuan,
mendengar teliti segala bicara,
Tangan kiri diangkat tinggi,
sebelum Tuan mula bicara.
Mata Sang Tuan memandang tajam,
ke relung jiwa kekasih hati.
Tasbih berputar, Syurga terhenti,
Para Malaikat terpegun berdiri,
Penghuni Syurga menjadi iri,
melihat Ikatan tersimpul erat
yang tak mungkin lelah
di batas rangkulan azimat perkasihan.

“Duduklah” Sang Tuan bertitah,
Si Murid duduk merendah diri,
Merenung, menatap  kekasih hati.
“Lihatlah si dia yang tak bisa tenang!”
berkata Sang Tuan kepada yang lain.
Si Fakir hina memberi jawab,
‘Masakan hati bisa tenteram
Ketika Tuan berada di sisi
Sungguh Tuan Paduka Sultan
Ikrar Berdiri di dustur Ilahi.’
Sang Tuan tergelak  mendengar bicara
Sambil memegang lengan si fakir,
dan Allah meningkatkan darjat hamba-Nya,
memberi kemuliaan kekal abadi

Sungguh balasan apakah yang terindah
selain kehadiran sang Kekasih disisi?
Pandangan mata menaburkan benih
terpatri kuat di ladang sanubari.
Di situ mereka menemui Syurgawi,
berserta nikmat harta segala.
Tersenyum mereka duduk tenang,
disaksikan jauh oleh seseorang.
Berlima, mereka duduk
dalam syahdu himpunan syurgawi,
umpama bintang yang bersinar terang.
 
Matahari mulai terbenam,
dikala hati telah berpadu,
berhimpun dalam naungan cinta
dan Shaykh tanam rahsia di dada.
Pertemuan berlaku hanya seketika,
Namun diberkati  yang Maha Esa.
Oh sungguh tak terasa waktu berlalu
bagai kencang gemuruh halilintar menderu.
Sang Tuan akur betapa hati akan merasa
bagi yang menyaksikan detik ini,
Iman yang pudar akan menebal,
di setiap putaran roda masa.

Sang Tuan menyaksi dan mengamati,
Si murid duduk dihiasi mahkota,
mahkota nan megah berwarna ungu.
Dia berbicara  sekali lagi,
kini pada kekasih hati,
yang lain berpaling memberi jarak,
untuk kekasih mencurah hati.
Nada bicara yang lebih rendah,
tiada siapa yang dapat meneka,
rahsia tersirat di kamar hati.
Tetapi  yang pasti mereka akui,
Uthmaniyyah akan Kembali lagi!
Hakikat yang jelas dan begitu nyata,
Di hujung lembing mereka menanti.

sheykhandhoja

 Penterjemahan dari Puisi
Hasil Karya,
Sakib Osmanli
England.
celtic-border-design-image

 

This entry was posted in OsmanliJB. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s